Monday, July 28, 2008

Kematian Akibat PowerPoint...

...adalah istilah yang saya gunakan sebagai padanan istilah Inggris "Death by PowerPoint". Istilah ini mendeskripsikan dampak presentasi yang tidak memedulikan hadirin. Hadirin yang tidak merasa terlibat pun bosan, dan bisa jadi tersiksa.

Alexei Kapterev dari Real Time Strategy menjelaskan cara menghindari Kematian Akibat Powerpoint ini dalam presentasinya di SlideShare.[1]

Alexei menyampaikan bahwa kematian akibat PowerPoint bisa terjadi karena kurangnya:
  1. Makna (Significance)
    Keberadaan makna akan mengobarkan semangat.

  2. Struktur (Structure)
    Merancang kerangka cerita kita.

  3. Kesederhanaan (Simplicity)
    Cukup satu inti pesan per slide.

  4. Geladi (Rehearsal)
    Tidak ada yang bisa sempurna tanpa umpan balik.


___________________

[1]: SlideShare sendiri merupakan salah satu wahana yang bagus untuk mendapatkan umpan balik. Bergabunglah. Dan jika sudah, masukkanlah saya sebagai kontak. Mari saling berbagi.

Wednesday, July 23, 2008

Tunjukkan Keunikan Kita Pada Dunia

Saya mendapatkan sejumlah komentar bernada serupa, "Kenapa mesti diatur-atur sih, Man. Presentasi itu kan sebebas-bebasnya kreativitas kita?"

Kreativitas? Ya. Sebebas-bebasnya? Tidak.

Presentasi selalu merupakan komunikasi ide kepada _orang lain_. Karena itu, presentasi perlu mengikuti sejumlah konvensi. Contoh konvensi: sampaikanlah ide kita saat hadirin sudah tertarik untuk mendengarkan.


Ikuti Konvensi, bukan Cara
Ini adalah konvensi yang berlaku universal, dari komunikasi empat mata hingga pidato di depan ribuan orang. Bolehkah kita melanggar konvensi ini? Boleh saja. Silakan, misalnya, ngomong arti kehidupan pada seorang remaja yang pikirannya sedang terfokus pada pacarnya. Paparkan slide tentang pentingnya menghargai waktu pada pertemuan lewat jam lima di sebuah kantor.

Tanggung konsekuensinya sendiri: bahwa pesan kita bisa jadi tidak melekat. Hanya sekadar lewat.

Namun, jika kita bisa bertindak agar konsekuensi itu tidak muncul, mengapa tidak? Menggunakan analogi pacaran pada remaja, misalnya. Atau pemilik perusahaan menjanjikan bahwa setiap menit waktu presentasi yang lewat jam lima akan dikali dua sebagai toleransi waktu keterlambatan besoknya. Buat hadirin jadi mau memerhatikan.


Cara boleh berbeda. Asalkan tujuan dari konvensi tetap tercapai.

Berbagai hal yang saya bagi di sini juga mengikuti sejumlah konvensi seperti itu. Hindari menuruti detail pelaksanaannya secara buta. Lihat lebih ke dalam, pada konvensinya. Lantas sesuaikan dengan gaya kita masing-masing.


Memunculkan Gaya secara Otentik
Ya, tiap orang memiliki gaya presentasi sendiri-sendiri, sebagaimana tiap orang memiliki gaya bicara masing-masing. Setiap orang spesial. Kuncinya adalah mencari tahu keunikan diri kita dan menyampaikannya pada dunia.

Di deretan tautan sebelah kanan blog ini, kita bisa melihat sejumlah gaya presentasi yang berbeda-beda. Tom Peters, Guy Kawasaki, atau Garr Reynolds. Itu adalah gaya mereka yang muncul secara alamiah setelah berpresentasi selama bertahun-tahun.

Gaya Guy Kawasaki, sebagai contoh, muncul dari pengalamannya presentasi menggunakan flipchart. Setelah beralih pada alat bantu komputer, muncullah aturan 10:20:30 yang ia terapkan untuk presentasi bisnis. Cukup 10 slide, selama 20 menit, dengan besar huruf minimal 30 poin.

Latar belakang desain Tom Peters mendorongnya bermain tipografi dan pewarnaan drastis untuk menempelkan pesannya di benak hadirin. Saat bekerja di Apple, Garr Reynolds berpresentasi pada orang-orang yang sangat peduli akan desain informasi. Presentasinya jadi sederhana dan sangat visual.

Kuncinya satu: mereka tidak berhenti belajar. Setiap presentasi (dari situasi resmi hingga sekadar diskusi dalam lift) merupakan eksperimen untuk mencari tahu dua hal:
a) Apa yang membuat orang jadi lebih mudah paham?
b) Dan apa yang justru menghasilkan kebalikannya?

Turutilah konvensi yang dijalani para pakar tersebut. Belajarlah dari tiap kesempatan kita bertukar pikiran dengan orang lain.


Namun, satu yang perlu ditekankan kembali: kita semua sudah memiliki keunikan. Kita semua spesial. Tidak perlu menjadi pakar atau berpengalaman bertahun-tahun untuk memiliki gaya otentik. Pengalaman bertahun-tahun itu sebenarnya untuk mengenali diri kita sendiri. Karena dalam perjalanan hidup, kita sering lupa.

Kenalilah keunikan diri kita. Sampaikanlah pada dunia.

Tuesday, July 15, 2008

Berpikir Seperti Pembuat Iklan: Apa Maksudnya?

Dalam mengatasi dosa besar ketiga: membosankan, saya menyarankan untuk berpikir seperti pembuat iklan.

Bukan. Bukan dalam mengulang pesan sampai tiga kali. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Seperti mengganti gangguan maag dengan sakit kepala.

Kalau gitu apa? Kreativitas dalam batasan yang sempit.

Dalam Cutting Edge Advertising, Jim Aitchinson menulis bahwa iklan suatu produk, misalnya, hanya bisa menyampaikan dua macam pesan:
a) Apa manfaatnya jika kita menggunakan produk itu, atau
b) Apa yang terjadi jika kita tidak menggunakan produk tersebut.

Dan kita hanya bisa menyampaikannya dalam ruang yang terbatas pula. Satu halaman cetak, lima belas hingga tiga puluh detik tayangan TV, atau batasan media lainnya. Dalam batasan itu, pesan harus sampai pada hadirin.

Presentasi juga seperti itu. Kalau kita memilih alat bantu, sebaiknya yang memang membantu kita menyampaikan pesan dalam batasan kita. Beranilah untuk merangkul kreativitas kita dalam menyampaikan pesan. Apalagi karena kita memiliki satu keuntungan: komunikasi dua arah. Kita bisa memastikan bahwa pesan kita tidak salah tertangkap.

Seberapa jauh kita bisa berkreasi? Asalkan tetap relevan dengan budaya hadirin kita. Berikut adalah contoh perbandingan iklan.

Produknya adalah bohlam. Pesan yang ingin disampaikan adalah kekuatan terangnya bohlam tersebut. Budaya hadirin meliputi kisah-kisah supernatural. Bagaimana cara Anda menyampaikan pesan ini?

Contoh pertama adalah Osram, yang dibuat agensi lokal. Bisa jadi Anda sudah melihat iklan TV tersebut. Seorang wanita di keremangan malam didekati Drakula (dengan penampilan stereotipikal kuno: potongan rambut Deddy Corbuzier, eye shadow, wajah putih, busana berkerah tinggi, dan taring). Namun sang wanita menyalakan lampu dan Drakula pun berteriak panik, "O... SRAAAAM!"

Buatan Indonesia, namun menggunakan tokoh supernatural budaya asing. Kuno, pula. Saat melihatnya, saya hanya mengernyit. Tidak terhibur. Butuh waktu beberapa kali menonton pula untuk menyadari bahwa sang Drakula menggunakan permainan kata nama produknya.

Saat menyadari permainan kata itu, saya malah kesal. Karena tidak merasa itu prestasi. Stevie Ray dalam Medium-Sized Book of Comedy menulis bahwa hadirin akan merasa senang saat mereka berhasil menangkap suatu humor cerdas. Itu membuat mereka merasa cerdas pula. Namun, saat humor tersebut tidak cerdas, hadirin justru merasa sebal. Karena merasa buang-buang pikiran untuk hal yang tidak membanggakan.

Satu agensi periklanan Thailand mengeksplorasi tema yang serupa untuk bohlam Sylvania. Hasilnya? Bisa dilihat di sini.


Kepala keluarga yang sedang piknik mengusir salah satu hantu yang tidak lagi terasa menakutkan dalam keadaan terang benderang.


Pendekatan yang serupa. Namun, mereka lebih berani untuk eksplorasi nilai lokal. Dan itulah yang membuat iklan ini juga menghibur bahkan bagi penonton yang bukan warga negara Thailand. Kita bisa melihat bahwa setan-setan Thailand ini tinggal diganti dengan figur mistis Indonesia seperti pocong, sundelbolong, kuntilanak--otomatis menjadi iklan yang bernuansa Indonesia.

"Tapi itu kan video, Man," protes Anda. "Alat bantu presentasi kita bisa saja hanya slide."

Ya, tinggal alihkan kreativitas kita pada kombinasi gambar dan kata. Inti pesan dua iklan di atas sama: terangnya lampu dapat membuat malam jadi tidak menakutkan. Berikut adalah satu iklan cetak OSRAM (untuk pembaca berbahasa Inggris) yang menyampaikannya secara visual.


Fight the night.


Dan tidak perlu sekeren itu. Gambar di atas jelas menggunakan pengolah citra. Sementara kita cukup menggunakan foto yang mewakili pesan kita. Saya ambil kembali contoh dari tulisan tentang Seni Tanya Jawab.




Eksplorasilah sisi kreativitas dan sesuaikan dengan budaya hadirin kita.

Wednesday, July 9, 2008

Hindari Kebutaan dalam Berpresentasi

Cobalah penggelitik otak sederhana berikut. Mampir ke situs ini, lantas tontonlah videonya.

Silakan. Saya tunggu. (Jika Anda adalah pengunjung setia blog Bertanya atau Mati, silakan langsung turun ke bawah. Anda tentunya sudah melihat video ini.)

Akan ada dua tim basket; hitam lawan putih. Kita akan diminta menghitung berapa jumlah operan yang dilakukan tim putih.



Cobalah.

Kalau sudah, tinggal turun ke tulisan di bawah.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Bagi yang belum, lebih baik coba dulu tonton videonya.
Akan jauh lebih mencerahkan. Percayalah.)
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Oke. Berapa jumlah operannya? Antara 10-15?

Tapi, bagi yang benar-benar menghitung, apakah Anda memerhatikan ada orang berkostum beruang yang menari mundur?

Oh, ada kok. Di klipnya sendiri jelas terlihat. Dan jika Anda benar-benar menghitung operan tim putih, bisa jadi Anda tidak akan melihatnya.



Fenomena ini disebut kebutaan akibat tidak memerhatikan (inattentional blindness). Video iklan itu sendiri mengadopsi video penelitian yang digunakan Daniel Simmons dan Christopher Chabris. Bedanya, mereka menggunakan orang berkostum gorila. Profesor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire menunjukkan video tersebut kepada 400 orang. Hasilnya? Hanya sepuluh persen yang melihat gorila itu lewat.

Singkatnya, kalau perhatian kita terfokus pada satu hal, kita bisa terbutakan terhadap hal-hal lain.

Apa relevansinya dengan presentasi?

Ya, perhatian pada hadirin. Jika kita terlalu fokus pada apa yang mau kita sampaikan, kita bisa buta terhadap keadaan hadirin. Para pendengar kita. Padahal percuma kita berhasil menyampaikan semua yang ingin kita sampaikan jika mereka tidak berminat mendengar. Dalam 7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint, ini termasuk Dosa Besar ke-7: Berlindung di Balik Komputer.

Bisa jadi karena kita terlalu gugup, cari aman, atau memang tidak terbiasa. Apa pun alasannya, akan berbahaya jika kita tidak bisa membedakan apakah hadirin sedang menyimak penuh minat, atau sedang diam-diam berdoa semoga presentasi kita cepat selesai.

Lepaskan diri dari belenggu kebutaan itu. Dekatilah hadirin kita. Jalinlah kontak emosi. Berbicaralah _dengan_ mereka. Bukan _pada_ mereka.