Showing posts with label kiat-kiat. Show all posts
Showing posts with label kiat-kiat. Show all posts

Wednesday, July 23, 2008

Tunjukkan Keunikan Kita Pada Dunia

Saya mendapatkan sejumlah komentar bernada serupa, "Kenapa mesti diatur-atur sih, Man. Presentasi itu kan sebebas-bebasnya kreativitas kita?"

Kreativitas? Ya. Sebebas-bebasnya? Tidak.

Presentasi selalu merupakan komunikasi ide kepada _orang lain_. Karena itu, presentasi perlu mengikuti sejumlah konvensi. Contoh konvensi: sampaikanlah ide kita saat hadirin sudah tertarik untuk mendengarkan.


Ikuti Konvensi, bukan Cara
Ini adalah konvensi yang berlaku universal, dari komunikasi empat mata hingga pidato di depan ribuan orang. Bolehkah kita melanggar konvensi ini? Boleh saja. Silakan, misalnya, ngomong arti kehidupan pada seorang remaja yang pikirannya sedang terfokus pada pacarnya. Paparkan slide tentang pentingnya menghargai waktu pada pertemuan lewat jam lima di sebuah kantor.

Tanggung konsekuensinya sendiri: bahwa pesan kita bisa jadi tidak melekat. Hanya sekadar lewat.

Namun, jika kita bisa bertindak agar konsekuensi itu tidak muncul, mengapa tidak? Menggunakan analogi pacaran pada remaja, misalnya. Atau pemilik perusahaan menjanjikan bahwa setiap menit waktu presentasi yang lewat jam lima akan dikali dua sebagai toleransi waktu keterlambatan besoknya. Buat hadirin jadi mau memerhatikan.


Cara boleh berbeda. Asalkan tujuan dari konvensi tetap tercapai.

Berbagai hal yang saya bagi di sini juga mengikuti sejumlah konvensi seperti itu. Hindari menuruti detail pelaksanaannya secara buta. Lihat lebih ke dalam, pada konvensinya. Lantas sesuaikan dengan gaya kita masing-masing.


Memunculkan Gaya secara Otentik
Ya, tiap orang memiliki gaya presentasi sendiri-sendiri, sebagaimana tiap orang memiliki gaya bicara masing-masing. Setiap orang spesial. Kuncinya adalah mencari tahu keunikan diri kita dan menyampaikannya pada dunia.

Di deretan tautan sebelah kanan blog ini, kita bisa melihat sejumlah gaya presentasi yang berbeda-beda. Tom Peters, Guy Kawasaki, atau Garr Reynolds. Itu adalah gaya mereka yang muncul secara alamiah setelah berpresentasi selama bertahun-tahun.

Gaya Guy Kawasaki, sebagai contoh, muncul dari pengalamannya presentasi menggunakan flipchart. Setelah beralih pada alat bantu komputer, muncullah aturan 10:20:30 yang ia terapkan untuk presentasi bisnis. Cukup 10 slide, selama 20 menit, dengan besar huruf minimal 30 poin.

Latar belakang desain Tom Peters mendorongnya bermain tipografi dan pewarnaan drastis untuk menempelkan pesannya di benak hadirin. Saat bekerja di Apple, Garr Reynolds berpresentasi pada orang-orang yang sangat peduli akan desain informasi. Presentasinya jadi sederhana dan sangat visual.

Kuncinya satu: mereka tidak berhenti belajar. Setiap presentasi (dari situasi resmi hingga sekadar diskusi dalam lift) merupakan eksperimen untuk mencari tahu dua hal:
a) Apa yang membuat orang jadi lebih mudah paham?
b) Dan apa yang justru menghasilkan kebalikannya?

Turutilah konvensi yang dijalani para pakar tersebut. Belajarlah dari tiap kesempatan kita bertukar pikiran dengan orang lain.


Namun, satu yang perlu ditekankan kembali: kita semua sudah memiliki keunikan. Kita semua spesial. Tidak perlu menjadi pakar atau berpengalaman bertahun-tahun untuk memiliki gaya otentik. Pengalaman bertahun-tahun itu sebenarnya untuk mengenali diri kita sendiri. Karena dalam perjalanan hidup, kita sering lupa.

Kenalilah keunikan diri kita. Sampaikanlah pada dunia.

Tuesday, July 15, 2008

Berpikir Seperti Pembuat Iklan: Apa Maksudnya?

Dalam mengatasi dosa besar ketiga: membosankan, saya menyarankan untuk berpikir seperti pembuat iklan.

Bukan. Bukan dalam mengulang pesan sampai tiga kali. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Seperti mengganti gangguan maag dengan sakit kepala.

Kalau gitu apa? Kreativitas dalam batasan yang sempit.

Dalam Cutting Edge Advertising, Jim Aitchinson menulis bahwa iklan suatu produk, misalnya, hanya bisa menyampaikan dua macam pesan:
a) Apa manfaatnya jika kita menggunakan produk itu, atau
b) Apa yang terjadi jika kita tidak menggunakan produk tersebut.

Dan kita hanya bisa menyampaikannya dalam ruang yang terbatas pula. Satu halaman cetak, lima belas hingga tiga puluh detik tayangan TV, atau batasan media lainnya. Dalam batasan itu, pesan harus sampai pada hadirin.

Presentasi juga seperti itu. Kalau kita memilih alat bantu, sebaiknya yang memang membantu kita menyampaikan pesan dalam batasan kita. Beranilah untuk merangkul kreativitas kita dalam menyampaikan pesan. Apalagi karena kita memiliki satu keuntungan: komunikasi dua arah. Kita bisa memastikan bahwa pesan kita tidak salah tertangkap.

Seberapa jauh kita bisa berkreasi? Asalkan tetap relevan dengan budaya hadirin kita. Berikut adalah contoh perbandingan iklan.

Produknya adalah bohlam. Pesan yang ingin disampaikan adalah kekuatan terangnya bohlam tersebut. Budaya hadirin meliputi kisah-kisah supernatural. Bagaimana cara Anda menyampaikan pesan ini?

Contoh pertama adalah Osram, yang dibuat agensi lokal. Bisa jadi Anda sudah melihat iklan TV tersebut. Seorang wanita di keremangan malam didekati Drakula (dengan penampilan stereotipikal kuno: potongan rambut Deddy Corbuzier, eye shadow, wajah putih, busana berkerah tinggi, dan taring). Namun sang wanita menyalakan lampu dan Drakula pun berteriak panik, "O... SRAAAAM!"

Buatan Indonesia, namun menggunakan tokoh supernatural budaya asing. Kuno, pula. Saat melihatnya, saya hanya mengernyit. Tidak terhibur. Butuh waktu beberapa kali menonton pula untuk menyadari bahwa sang Drakula menggunakan permainan kata nama produknya.

Saat menyadari permainan kata itu, saya malah kesal. Karena tidak merasa itu prestasi. Stevie Ray dalam Medium-Sized Book of Comedy menulis bahwa hadirin akan merasa senang saat mereka berhasil menangkap suatu humor cerdas. Itu membuat mereka merasa cerdas pula. Namun, saat humor tersebut tidak cerdas, hadirin justru merasa sebal. Karena merasa buang-buang pikiran untuk hal yang tidak membanggakan.

Satu agensi periklanan Thailand mengeksplorasi tema yang serupa untuk bohlam Sylvania. Hasilnya? Bisa dilihat di sini.


Kepala keluarga yang sedang piknik mengusir salah satu hantu yang tidak lagi terasa menakutkan dalam keadaan terang benderang.


Pendekatan yang serupa. Namun, mereka lebih berani untuk eksplorasi nilai lokal. Dan itulah yang membuat iklan ini juga menghibur bahkan bagi penonton yang bukan warga negara Thailand. Kita bisa melihat bahwa setan-setan Thailand ini tinggal diganti dengan figur mistis Indonesia seperti pocong, sundelbolong, kuntilanak--otomatis menjadi iklan yang bernuansa Indonesia.

"Tapi itu kan video, Man," protes Anda. "Alat bantu presentasi kita bisa saja hanya slide."

Ya, tinggal alihkan kreativitas kita pada kombinasi gambar dan kata. Inti pesan dua iklan di atas sama: terangnya lampu dapat membuat malam jadi tidak menakutkan. Berikut adalah satu iklan cetak OSRAM (untuk pembaca berbahasa Inggris) yang menyampaikannya secara visual.


Fight the night.


Dan tidak perlu sekeren itu. Gambar di atas jelas menggunakan pengolah citra. Sementara kita cukup menggunakan foto yang mewakili pesan kita. Saya ambil kembali contoh dari tulisan tentang Seni Tanya Jawab.




Eksplorasilah sisi kreativitas dan sesuaikan dengan budaya hadirin kita.

Wednesday, June 25, 2008

Tombol Hebat yang Terlupakan

Jika kita menggunakan PowerPoint, ada satu tombol yang sering terlupakan. Padahal kemampuannya hebat: bisa membuat perhatian hadirin otomatis terpusat pada kita, sang pembicara.

Tombol apakah itu?

Huruf "B", dari "blank screen" atau layar kosong.[1]

Tekanlah, dan layar akan jadi kosong. Gelap. Proyektor pun tidak menyorotkan apa-apa. Manfaatkan saja saat kita ingin menjalin interaksi dengan hadirin, menjalankan permainan beregu, atau berbicara cukup panjang tanpa bantuan slide. Perhatian hadirin tidak akan terpecah oleh tayangan proyektor.


Keluarlah dari batasan "kotak" PPT yang mengandalkan slide


Begitu selesai, tinggal kembali tekan B. Dan layar pun kembali pada tayangan semula.

Cobalah. Saat perhatian hadirin tampak terlalu terfokus pada layar proyektor, ambil alih kendali dengan tombol ini. Saksikan bagaimana seluruh tatapan langsung berpindah pada kita.

Bukan sulap, bukan sihir.

_________________________________

[1]: Ada juga yang berpendapat bahwa B ini singkatan dari "Black screen" atau layar hitam. Karena sebagai alternatif, ada juga tombol W, untuk "White screen" atau menampilkan layar putih.

Sunday, December 30, 2007

Dua Kata yang Perlu Dijauhkan Dari Slide Penutup

Adalah "Terima kasih".

Kecuali, kalau presentasi kita memang intinya adalah "Terima kasih". Menyampaikan apresiasi pada rekan kerja di kantor, misalnya. Namun, saat bukan, jauhkan dua kata ini dari slide. Terutama dari slide penutup. Karena tulisan salah tempat itu akan melemahkan inti pesan kita.

Cukup ucapkan saja. Namun, jangan tempelkan di slide. Slide penutup itu akan terus membekas dalam benak hadirin saat mereka pulang. Sayang sekali kalau mereka hanya mengingat: "Terima kasih" alih-alih "Tulislah setiap ide yang muncul!" (sebagai contoh).

Gunakanlah slide penutup untuk menyampaikan inti pesan kita yang terkuat.

Tuesday, December 25, 2007

Orang Pintar, Terdengar Bodoh

Jangan sampai terjadi pada kita. Hilangkan kebiasaan mengucapkan kata-kata kosong. Misalnya: "Eum..." atau "Apa namanya..."

Dalam sebuah seminar nasional, seorang ahli telekomunikasi sempat berkata seperti ini, "Jadi, apa namanya... Wimax itu tidak, apa namanya... lebih cepat daripada, apa namanya... Wi-fi. Wimax itu hanya, apa namanya... lebih luas jangkauannya karena menggunakan teknologi, apa namanya... microwave."

Sangat mengganggu.

Hilangkan kata-kata kosong. Jika kita perlu waktu untuk berpikir, gunakanlah jeda. Atau ajaklah hadirin untuk berpartisipasi mengajukan jawaban.

Di Amerika Serikat, salah satu contoh kata kosong ini adalah "like". Saking parahnya, sampai Academy of Linguistic Awareness membuat iklan layanan masyarakat berikut ini.


Tidak mau terdengar bodoh? Berhentilah mengucapkan "like" (secara berlebihan).


(Saya rasa kita juga perlu mengobarkan kampanye serupa untuk melawan penyalahgunaan "secara".)

_____________________

Terima kasih pada Eko untuk menunjukkan URL gambar di atas.

Saturday, September 29, 2007

Berbicara Efektif: Hilangkan Tiga Kata Saja

Danny I. Yatim, Media & Communication Adviser dari GRM International, mengadakan lokakarya berpresentasi efektif. Salah satu materinya adalah kesalahpengggunaan tiga kata yang perlu kita hilangkan dari kebiasaan berbicara kita. Penggunaan tiga kata ini berakar pada budaya rendah hati yang pada dasarnya baik. Sayangnya, berdampak buruk pada kekuatan pesan kita.

Apa saja tiga kata itu?

  1. Kebetulan

  2. - "Kebetulan, saya ditunjuk sebagai ketua panitia."
    - "Kebetulan, Pak Danny berada di sini untuk menyampaikan bagaimana cara presentasi yang baik."

    Danny biasanya langsung memberikan faktor kejutan dengan menyampaikan, "Bapak-bapak mungkin kebetulan berada di sini. Tapi saya tidak. Saya tidak kebetulan ada di sini. Saya memang sengaja ke sini untuk kepentingan Bapak-bapak semua."

    Kalau memang bukan kebetulan, jangan gunakan kata ini. Tunjukkan niat dan keinginan kita sejelas-jelasnya. "Saya dipilih sebagai ketua panitia berdasarkan kesepakatan kita bersama. Karena itu, saya mengharapkan kerja sama Anda semua."

  3. Mungkin

  4. - "Alternatifnya mungkin ada dua..."
    - "Solusinya mungkin bisa kita temukan dengan cara..."

    Hilangkan kata "mungkin" dalam konteks di atas. Yang pasti-pasti saja. Kalau memang penting bagi hadirin untuk mengetahui probabilitas, sampaikan dengan jelas. "Ini adalah solusinya. Berdasarkan pengalaman kita dari tahun 1995, kemungkinan berhasilnya 75%."

  5. (Akan) Mencoba

  6. - "Saya akan mencoba menyanyikan sebuah lagu."
    - "Saya coba jelaskan dengan diagram berikut..."

    Seperti yang disampaikan Yoda dalam Star Wars, "Lakukan [saja]. Jangan mencoba."

    Hilangkan semua percobaan dan jadikanlah pesan yang kuat:
    + "Saya akan menyanyikan sebuah lagu."
    + "Lihat diagram berikut."

Apakah tiga kesalahpenggunaan kata ini sudah Anda hilangkan dari gaya bicara Anda?

Saturday, September 1, 2007

Cara Paling Ampuh Membunuh Minat Hadirin

Bukalah presentasi dengan slide penuh teks... dan bacalah kata per kata.

Dalam buku Laugh and Learn, Doni Tamblyn menyampaikan bahwa begitu mulai berbicara, kita hanya punya sepuluh detik untuk menangkap perhatian hadirin selama lima menit ke depan. Walaupun angka ini bisa berbeda-beda di berbagai budaya, pesannya tetap universal: kita perlu memiliki pembuka yang menggebrak.

Dalam putaran final Imagine Cup 2007, Tim Aksara (wakil Indonesia) memproduksi video khusus untuk menggugah emosi hadirin dari awal. Namun, pembuka yang menarik perhatian sebenarnya tidak harus serumit itu. Ini sekadar satu cara.

Wakil Austria, misalnya, mempraktikkan pembuka presentasi yang sederhana. Tapi menarik. Produk yang mereka presentasikan adalah flipchart elektronis. Bentuknya seperti flipchart biasa, namun sebenarnya layar proyeksi komputer. Dan kita bisa menulisi permukaannya dengan pena khusus.

Para tim sebelum Austria membuka dengan pola serupa: perkenalan diri, lantas perkenalan produk. Dan ini mulai menjadi pola yang membosankan. Perhatian penonton tampak ke mana-mana. Ada yang mengobrol atau mengambil foto. Dalam Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint, saya mengingatkan akan bahayanya dosa besar ketiga: membosankan. Ini sama fatalnya dengan menyulitkan pembacaan.

Dan Tim Austria tampaknya sadar akan hal itu. Sayangnya, mereka tidak menyiapkan materi khusus untuk pembuka. Mereka tidak menyiapkan video pembuka khusus, misalnya, seperti yang dilakukan Tim Aksara. Hanya berbekalkan produk dan rekaman mereka saat menggunakan produk. Bagaimana mereka bisa mengawali dengan gebrakan?

Tanpa berlama-lama, juru bicara mereka melangkah ke arah flipchart dan menuliskan besar-besar, "AUSTRALIA". Ia kemudian menghadap para juri. "Ini," ujarnya, "adalah kebiasaan mayoritas orang mengeja nama negara kami."

Hadirin tergelak.

Sang juru bicara lantas menghapus huruf "A" dan "L" secara elektronis. "Seharusnya begini. Di negara kami tidak ada kangguru!" protesnya.

Gelak tawa pun menyebar.

Dalam beberapa detik pertama, ia berhasil memikat hadirin, sekaligus mengenalkan kelompok dan produk secara sekilas. Berikutnya, saat ia menjelaskan lebih detail, perhatian penonton pun sudah terarah sepenuhnya pada presentasi ini.

Banyak cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk memikat hadirin dari awal.

Seorang teman[1] yang menjadi guru bimbel pernah memasuki kelas yang gaduh. Ia dengan tenang mengambil spidol dan menggambar jalinan jaring di papan putih. Terusik rasa ingin tahu, kegaduhan pun mereda. Hingga akhirnya hening. Hanya terdengar suara goresan spidol. Teman saya lantas berbalik dan bertanya, "Ada yang tahu apa yang baru saja dijerat oleh jaring ini?"

Sejumlah kepala menggeleng.

"Perhatian kalian," ujar teman saya sambil tersenyum.

Temukanlah cara-cara untuk memikat hadirin kita dari awal. Hasil penerapannya bisa jadi akan mengejutkan kita sendiri.

_____________________

[1]: Yang entah kenapa tidak mau saya sebut namanya. Mungkin karena mengira saya akan menulis kisah-kisah memalukan seperti di buku Bertanya atau Mati!

Wednesday, August 15, 2007

Seni Tanya Jawab: Ubah Pola Pikir

Dalam final Imagine Cup 2007, tim Thailand menunjukkan cara yang unik dalam sesi tanya jawab. Setelah juri melemparkan pertanyaan, sang juru bicara akan mengulang pertanyaan tersebut. "Benarkah ini yang ditanyakan?" tanyanya kemudian.

Setelah juri mengiyakan, ia memberi isyarat kepada timnya. Dan apakah yang mereka lakukan?

Mereka berdiskusi internal dulu. Ya, di tengah sorotan ratusan hadirin, mereka membuat lingkaran tertutup dan mengobrol, seperti yang dilakukan Kwik, Kwek, dan Kwak (keponakan Donal Bebek) saat menyusun strategi. Seisi ruangan sampai riuh oleh tawa karena kelakuan tim Thailand ini.

Namun mereka sendiri tidak terpengaruh. Setelah mencapai keputusan, lingkaran itu pun bubar. Lantas sang juru bicara akan menyampaikan jawaban mereka dengan tegas. Cara ini terus mereka lakukan untuk menjawab setiap pertanyaan. Dan jawaban mereka selalu memuaskan, diiringi sikap yang percaya diri.

Cara ini mungkin selintas tampak konyol. Dan jelas tidak akan berlaku pada setiap kesempatan presentasi. Namun sebenarnya, mereka telah menunjukkan kepiawaian dalam seni tanya jawab. Ini terlihat dari beberapa tindakan:

    a) Mengulangi pertanyaan
    Tindakan sederhana ini memiliki banyak manfaat. Pertama, memastikan kita tidak salah tangkap. Kemampuan berbahasa Inggris tim Thailand tidaklah bagus. Namun, ini tidak membuat mereka malu atau gugup. Mereka malah meminta izin untuk melakukan diskusi lingkaran ini agar tidak salah tangkap. Bagi mereka, yang penting bisa menangkap pertanyaan dengan benar. Dan memberikan jawaban yang sesuai, tidak memutar-mutar.

    Kedua, membuat penanya merasa didengar. Ketiga, memastikan bahwa hadirin yang lain juga mendengarkan. Keempat, memberikan kita kesempatan untuk berpikir. Dan kelima, kita bisa membingkai ulang pertanyaan jika diperlukan.


    b) Membingkai ulang pertanyaan
    Fungsi membingkai ulang pertanyaan adalah mengubah arah (dan pola pikir) sesi tanya jawab. Umumnya, orang menganggap sesi tanya jawab sebagai ajang serang dan tangkis. Penanya menyerang, dan penjawab menangkis.

    Padahal ini adalah pola pikir yang salah.


    Kalau berpikir seperti itu, kita terdorong untuk mencari jawaban yang terdengar bagus. Bahasa ilmiahnya: ngeles. Padahal yang dibutuhkan adalah jawaban yang membantu hadirin untuk mengerti. Inti presentasi adalah penyampaian ide. Hadirin datang untuk memahami ide tersebut. Pembicara pun ingin hadirin mengerti. Berarti: pembicara dan hadirin memiliki tujuan yang sama.

    "Are we there yet?"


    Karena itu, pola pikir serang-tangkis keliru. Hadirin bukanlah musuh. Melainkan rekan perjalanan dengan tujuan yang sama. Tugas pembicara adalah menjelaskan ke mana arah presentasi ini dan sudah sejauh mana kita melangkah.

    Jika ada pertanyaan yang terkesan menyerang, bingkailah ulang menjadi konteks pola pikir bekerja sama. Apa manfaat dari pertanyaan itu. Lantas berikanlah jawaban yang mencerahkan.


    c) Menyampaikannya dengan tegas
    Jangan takut salah. Kalaupun fakta yang kita ungkapkan ternyata salah bukankah itu baik, karena sekarang jadi benar? Kalaupun pendapat kita ternyata berbeda dengan orang lain, bukankah itu wajar? Hingga lingkup tertentu, pendapat kita bahkan bisa berubah setelah saling berbagi dengan hadirin.

Ubahlah pola pikir kita tentang hadirin. Otomatis, kita akan menangkap esensi sesi tanya-jawab: membantu orang lain agar lebih memahami maksud kita.

Friday, August 3, 2007

Dua Alasan Penyebab Presentasi yang Membingungkan

Tim Aksara adalah empat anak muda dari Bandung yang akan mewakili Indonesia di kompetisi Microsoft Imagine Cup Korea 2007. Kompetisi internasional yang disponsori Microsoft ini bertujuan mencari software buatan kalangan akademik yang berprospek bisnis dan berdampak besar pada masyarakat. (Plus menggunakan teknologi Microsoft, tentunya.)

Kebetulan, dua anggota Tim Aksara, Octa dan Budi adalah teman kerja (dan futsal), sehingga saya sempat diajak berdiskusi mengenai presentasi mereka. Software yang mereka usung bernama ABC, merupakan alat bantu pembelajaran baca-tulis.

Octa menyampaikan satu hal yang mengganggu mereka. Terakhir kali mereka menggelar presentasi di hadapan para mahasiswa ITB untuk meminta masukan. Sejumlah keluhan muncul, bahwa presentasi mereka sulit dimengerti. Padahal seluruh hadirin berlatar belakang teknik. Kenapa bisa begitu? Dan ini gawat, mengingat sebagian juri nanti berlatar belakang bisnis. Dan tentunya mereka ingin penyajian yang sederhana dan mudah dipahami.

Setelah Octa dan Budi menunjukkan presentasi yang mereka susun, baru saya paham kenapa. Elemen-elemen presentasi mereka sudah bagus dan mendetail. Informasi disusun secara menarik. Mereka bahkan tidak menggunakan slideware. Mereka menayangkan grafik dan teks dalam bentuk Flash. Diselingi video dan demo program. Dengan kata lain, semua ini sudah tampak profesional.

Lantas kenapa orang tidak mengerti? Bukannya ini jauh lebih bagus daripada slide yang sekadar berisi bullet?

Alasan pertama: informasi yang mereka sampaikan saling bertabrakan.

Anggaplah satu tampilan adalah satu pesan. Saat menampilkan persentase populasi buta huruf di seluruh dunia, misalnya, apa yang ingin mereka sampaikan? Ternyata pesan bahwa buta aksara bukanlah sekadar masalah dunia ketiga, melainkan juga masalah negara maju. Sayangnya, yang muncul di layar adalah persentase. Jelas persentase negara maju terlihat kecil.

Saya menyarankan agar mengganti persentase dengan jumlah. Dan mencari data yang lebih menohok. Literacy Volunteers of America divisi Washington, sebagai contoh, menulis bahwa masih ada 40 juta orang dewasa yang belum fasih membaca (functional illiterate). Walau tidak buta aksara total, mereka masih kesulitan membaca berbagai teks berkaitan pekerjaan. Bahkan ada yang lulusan setingkat SMP dan tidak bisa membaca ijazah mereka. Jumlah ini lebih mencengangkan daripada persentase buta aksara total yang di bawah 5%.

Grafik merupakan salah satu kunci masalah dalam presentasi. Sering kali saya melihat seseorang menampilkan slide berisi grafik yang tidak jelas tentang apa. Baru paham setelah ia menjelaskan. Lebih parah lagi, penjelasan sejumlah pembicara malah berbeda dengan yang grafik yang ia tunjukkan. Grafik seperti ini sudah gagal memenuhi tugasnya. Kalau grafik ini adalah artileri, ia baru saja meledakkan gudang mesiu benteng sendiri.

Munculkanlah grafik sehingga orang langsung mengerti maknanya. Dan pilihlah bentuk yang sesuai. Jika ingin menunjukkan persentase, misalnya, gunakanlah bentuk kue. Gunakan batang jika ingin membandingkan jumlah. Jika terbalik malah membingungkan.

Bagaimana dengan video? Satu video mungkin memiliki beberapa situasi atau adegan. Namun, inti pesannya tetap satu. Terlalu banyak, dan hadirin pun bingung. Jika ada lebih dari satu inti pesan dalam video, potong-potonglah. Sampaikan terpisah. Pastikan bahwa hadirin memahami pesan pertama, sebelum bergerak ke pesan selanjutnya.

Alasan kedua: urutan informasi yang salah.

Bayangkanlah kita bertemu seorang teman lama.

"Saya baik-baik saja," sapanya. Saat kita melongo, dia melanjutkan, "Tapi sekarang sudah sembuh, kok."

"Euh, apa kabar?" tanya kita ragu-ragu.

"Minggu lalu saya sempat gejala DB," jawabnya. "Halo, apa kabar?"

Oh, baru kita ngeh. Dia baik-baik saja. Minggu lalu sempat kena gejala demam berdarah, tapi sekarang sudah sembuh.[1] Ini masih bisa kita mengerti karena dialognya sederhana. Sementara dalam presentasi, berbagai urutan informasi yang terbalik akan membuat hadirin kehilangan arah.

Sebagian besar masalah Tim Aksara pun dapat mereka atasi dengan sekadar mengubah urutan presentasi. Atau malah menghilangkan bagian presentasi. Satu klip animasi 3D cantik, misalnya, mereka buang karena terlalu panjang. Video menyentuh yang tadinya mereka taruh di urutan kedua jadinya mereka pasang di awal. Dengan begitu, video ini berhasil menarik perhatian hadirin dalam sepuluh detik pertama. Musik latar belakang yang sendu serta narasi yang kuat menyeret hadirin ke suasana hati yang pas.

Video berakhir dengan kutipan Kathleen Blanco yang menyimpulkan inti pesan, "Think about it: Every educated person is not rich, but almost every education person has a way out of poverty."

Dari sini, mereka bisa melanjutkan ke informasi literasi di Indonesia dan bagaimana ABC menjadi solusi yang lebih baik. Seterusnya pun lancar.

Presentasi pada dasarnya adalah seni merangkai pesan yang sinergis dan konsisten. Jika presentasi kita membingungkan orang, cobalah pisah masing-masing pesan dan jabarkan. Siapa tahu pesan kita tabrakan atau salah urutan.

Tim Aksara sendiri akan bersaing menuju posisi puncak dengan 55 tim negara lain mulai Senin ini (6 Agustus 2007). Sukses dan selamat berjuang bagi Tim Aksara!

___________________

[1]: Walaupun--seperti komentar Agung--masih perlu berkonsultasi ke psikolog.